Showing posts with label hydrolix. Show all posts
Showing posts with label hydrolix. Show all posts

Wednesday, September 18, 2019

hydrolix circuit pada swing excavator

klinik alat berat
1. Swing right

Oli yang dialirkan ke swing hidrolik sirkuit hanya dari pompa kiri (28). Oli dari pompa kiri (28) mengalir melalui parallel feeder passage (13) di main control valve (14), load check valve (12), passage (17), swing control valve (18), passage (16), line (9) ke swing motor (5) untuk berputar ke arah kanan (clockwise direction). Oil retrun dari swing motor (5) mengalir ke line (10), retrun passage (11), retrun line (8), slow retrun check valve (33) ke hidrolik tank.

2. Swing left

Swing left beroperasi sama seperti saat swing right beroperasi. Oli dari pompa kiri (28) mengalir melalui parallel feeder passage (13), passage (17) dan line (10) ke swing motor (5) untuk berputar ke arah kiri (counterclockwise direction). Oil retrun dari swing motor (5) mengalir ke line (9), retrun passage (11), retrun line (8) dan slow retrun check valve (33) ke hidrolik tank.





HEAVY EQUIPMENT SERVICE & PART ( layanan service alat berat dan penjualan suku cadang ) komatsu , cat , hyundai, hitachi, kobelco, volvo , forklift , genset dll 081283011641

hydrolix circuit pada bucket excavator

klinik alat berat
  1. Bucket Close/Open

Oli yang dialirkan di bucket hidrolik sirkuit hanya dari pompa kanan (22). Oli dari pompa kanan (22) dialirkan melalui parallel feeder passage (16) di main control valve (5), load check valve (12), ke bucket control valve (9) dan lane (3) lalu ke head end bucket cylinder (4). Oil retrun dari rod end bucket cylinder mengalir melalui line (2), orifice (11) di bucket conterol valve (9), retrun passage (17) dan retrun line (6) lalu ke hidrolik tank. 2. Bucket open Bucket open beroperasi sama seperti saat bucket close beroperasi. Oli dari pompa kanan (22) mengalir ke parallel feeder passage (16), load check valve (12), ke bucket control valve (9) dan lane (3) lalu ke head end bucket cylinder (4). Oil retrun dari head end bukcet (4) mengalir melalui line (3), retrun passage (17), retrun line (6) lalu ke hidrolik tank.


⇒baca juga tentang circuit hydrolix pada swing


HEAVY EQUIPMENT SERVICE & PART ( layanan service alat berat dan penjualan suku cadang ) komatsu , cat , hyundai, hitachi, kobelco, volvo , forklift , genset dll 081283011641

mengulas kembali tentang dasar hydrolix system

klinik alat berat
Prinsip Dasar Sistem Hidrolik

Hukum yang menjadi dasar prinsip sistem hidrolik adalah hukum pascal, dalam sebuah ruangan tertutup, tekanan yang bekerja pada fluida akan merambat merata kesemua arah besarnya tekanan dalam fluida adalah gaya (F) dibagi dengan luas bidang tekannya (A). Tekanan pada suatu titik akan bekerja ke segala arah dan sama besar.



Minyak Hidrolik

Minyak hidrolik dalam suatu sistem hidrolik merupakan media untuk mentransmisikan kerja dari suatu tempat ke tempat lain. Disamping itu dalam penggunaannya minyak hidrolik harus mampu berfungsi  :
  • Melumasi bagian-bagian yang bergerak dalam pompa dan motor hidrolik.
  • Mempunyai sifat pelumasan yang baik dan menyerap kalor akibat tekanan.
  • Mempunyai ketahanan tinggi terhadap putusnya lapisan film minyak.
  • Sedapat mungkin viskositas tidak boleh tergantung pada temperatur.
Sirkuit Hidrolik Excavator

Sistem hidrolik pada Excavator digunakan untuk mengendalikan pengendalian Boom Raise/Lower, Stik out/in, Bucket close/open, Swing Right/left, atau kombinasi dari gerakan-gerakan di atas. Sistem tenaga hidrolik ini dikontrol oleh main control valve, yang terdiri dari beberapa katup directional control valve (DCV). Sistem hidrolik digerakan oleh dua buah variable pump dengan jenis pompa piston (Axial piston pump) dimana pompa ini menyalurkan tenaga dari engine pada excavator.



Sistem Hidrolik Excavator

Berdasarkan fungsinya sistem hidrolik pada excavator dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu :


1. Hidrolik silinder
   Hidrolik silinder yang merupakan work tool untuk melakukan kerja yang terdiri dari tiga jenis,      yaitu :


· Boom silinder.
· Stick silinder.
· Bucket silinder.

2. Swing motor dan drive
Oli hidrolik yang dikontrol oleh control valve memungkinkan swing drive dan motor berkerjasama memutar excavator.

3. Trevel motor dan final drive

Oli hidrolik yang dikontrol oleh control valve dan swivel joint memungkinkan trevel motor dan fianl drive menggerakan excavator maju dan mundur.


1. Boom raise
Oli dari pompa kanan (28) dialirkan melalui parallel feeder passage (17) di main control valve (11) ke boom I control valve (19), check valve (14), ke shift valve (4) di boom drift reduction valve (5) dan keluar melalui line (3) ke head end boom cylinder (1). Oli dari pompa kiri (27) melalui parallel feeder passage (8) di main control valve (11) ke boom II control valve (16), check valve (13), port (15), line (10) dan ke boom drift reduction valve (5). Dimana akan terjadi combonasi aliran oli dari pompa kiri dan kanan pada through passage (12) dan line (3) ke head end boom cylinders (1). Oil return dari rod end boom cylinders (1) mengalir melalui laine (2) ke boom I control valve (19), retrun passage (18), retrun passage (9) dan retrun line (6) dan ke hidrolik tank.



2. Boom lower
Sebelum boom lower beroperasi, oli yang dialirkan hanya dari pompa kanan (28). Oli dari pompa kanan (28) akan melalui parallel feeder passage (17) ke boom I control valve (19), check valve (14), dan diteruskan lane (2) ke rod end boom cylinders (1). Oil retrun dari head end boom cylinders (1) diteruskan laine (3) ke boom drift reduction valve (5). Valve (48) bergeser karena tekanan oli pilot dari pilot line (53) dan membuka drain line (50). Oil retrun di line (3) masuk saluran (51) dan boom regenetation valve (41) sehingga oil retrun menyuplai ke rod end boom cylinders (1) melalui line (2).
Stick Sirkuit hidrolik
  1. stick out
Oli dari pompa kanan (29) dialirkan melalui parallel feeder passage (12) di main control valve (6), check valve (16), ke stick II control valve (13) dan line (7). Oli dari pompa kanan (29) juga mengalir melalui parallel feeder passage (22), check valve (19) ke stick II control valve (13) dan ke line (7). Jadi semua oli dari pompa kanan (29) mengalir di line (7) ke stick reduction valve (5) lalu ke rod end stick cylinder (1). Oli dari pompa kiri (28) dialirkan melalui center bypass passage (18) di main control valve (6), load check valve (15), passage (17) ke stick I control valve (21) dan passage (8) lalu masuk ke valve (4) di stick drift reduction valve

(5), line (3) ke rod end stick cylinder (1). Oil retrun dari head end stick cylinder mengalir melalui line (2) dan retrun passage (9) ke stick I control valve (21) lalu mengalir melalui retrun passage (10) dan retrun line (23) dan ke hidrolik tank.



2. Stick in

Oli dari pompa kiri (28) akan mengalir di center bypass passage (18), check valve (15), melewati stick I control valve (21) dan passage (9) ke line (2) lalu ke head end stick cylinder (1). Oli dari pompa kanan (29) di center bypas passage (12) akan mengalir melewati check valve (16), stick II control valve (13) dan ke line (42). Oli dari pompa kanan (28) juga mengalir melalui parallel feeder passage (22), check valve (19), stick II control valve (13) dan ke line (42). Jadi semua oli dari pompa kanan (28) mengalir di line (42) ke line (2) lalu ke head end stick cylinder (1). Oil retrun dari road end stick cylinder mengalir melalui line (3) ke stick drift reduction valve (5). Valve (4) di stick drift reduction valve mengalirkan oli ke passage (43), retrun passage (10) dan retrun line (23) lalu ke hidrolik tank.


baca juga tentan  ⇒   sirkuit bucket pada excavator


HEAVY EQUIPMENT SERVICE & PART ( layanan service alat berat dan penjualan suku cadang ) komatsu , cat , hyundai, hitachi, kobelco, volvo , forklift , genset dll 081283011641

Saturday, August 3, 2019

ANALISA TROUBLE AND ADJUST PRESURE PUMP PC200 MANUAL / ELECTRIK

klinik alat berat
Berikut adalah beberapa analisa dan cara penanganan masalah pada unit excavator pc 200 di ambil dari beberapa kasus di lapangan mudah mudahan bisa sedikit membantu pencerahan dan jika masih ada yang kurang dengan artikel ini bisa di tambahkan untuk penyempurnaan


  1. Engine drop di bawah standart
penyebabnya :
  • PC-EPC selenoid
  • Penyetelan PC-EPC Valve terlalu tinggi
  • Sphool macet tertutup.
  • Screew buntu
  • Spool aus scratch
  • Pemasangan solenoid assy terbalik sehingga port solenoid tidak bertemu dengan port pada pump housin
langakah perbaikan :
  • Pastikan performa mesin dalam kondisi baik.
  • Cek & atur tekanan output PC-EPC valve posisi A mode).
Std. Refferensi dari hasil pengukuran unit baru):

-Netral, High Idle 0 kg / cm2.
-Relief, High Idle 5 kg / cm2.
-Netral, Low Idle 29 35 kg / cm2.
  • Bersihkan skren pada solenoid.
  • Cek kondisi spool pada solenoid PC-EPCvalve, bila terfadi aus / scratch ganti solenoid.
  • Bila perlu ganti o ring solenoid
  • pastikan pemasangan PC-EPC tidak bisa dilepas dengan lubang meluruskan hole / port oilnya terdapat housing pump
    2. jika Semua atachman low speed dan low power

penyebanya adalah :
  • Pressure self reduching valve drop
  • Spool Self Pressure raduching valve macet tertutup karena adanya kotoran yang mengganjal Hal ini akan mengakibatkan pressure self raduching valve drop dan semua atachmant low speed dan low power

langkah perbaikan :
  • Periksa dan atur tekanan output self reduction valve. Std .: 30-35 kg / cm2.. Jika tekanan masih dibawah standar sudah sesuai penyesuaian, periksabagian internal Self Pressure Reducing Valve.
  • Perbaiki spool yang macet
  • Lakukan pergantian o-ring, kalau kondisi o ring sudah tidak baik. Pakai o ring sesuai standar.

3.Jika Terjadi aram drive pada posisi aram out

penyebabnya :
  • Safety suction valve aram in
  • Seal teflon pada safety suction valve arm in mengalami kebocoran. Saat netral, oil di ruang head arm silinder mengalir ke atas melalui seal yang bocor tersebut,
langkah perbaikan :
  • Untuk mempercepat analisis masalah tsb Dilakukan dengan menukar safety suction valve arm dengan pengaman suction valve attachment lain (aram out).
  • Ganti seal teflon atau ganti safety suction valve assy
4.Jika Hydraulick low power

penyebab :
  • Unload valve dan maine relief
  • valve sphool pada unload valve aus sehingga terjadi leakage antara sphool dan housing

langkah perbaikan :
  • periksa seal dan sphool pada unload valve dan maine relief valve atau ganti assy

4.jika boom lower low power dan tidak mampu jack unit dan pressure di dapat hanya 200 +-20KG/CM2

kemungkinan penyebabnya :
  • Boom regeneration circuit.
  • check valve boom regeneration valve macet,tidak terpasang,atau jatuh saat resealing pump merge-divinder valve
langkah perbaikan :
  • Buka pump merge-devinder valve lalu periksa valve regeneration
5.jika Cover sphool merge devinder valve sering pecah

penyebabnya adalah
  • Slow retun valve merge-Devinder dan self reduching valve
  • jika slow retrun falve macet atau tidak terpasang,Hal ini mengakibatkan proses draint tidak smooth pada merge-devider valve, sehingga terjadi benturan seat dengan cover spool penggabungan devider valve
  • ika preesure raduching valve terlalu tinggi hal demikian juga sering terjadi 
langkah perbaikan:
  • Cek tekanan output pressure selv raduching  valve STD 35 kg / cm2.
  • Cek kondisi cover spool, pastikan slow retrun valve sudah terpasang atau tidak macet..
6.Jika aram out dan bucket low power..
Kemungkinan penyebabnya :
  • aram sphool
  • terjadi leakage akibat rusaknya o-ring dan back up ring yang terdapat pada plug aram sphol sphool yang sama juga terdapat pada bucket valve sphool,sehingga jika terjadi kerusakan oring pada plug bucket sphool akan mengakibatkan bucket dump low power.
langkah perbaikan :
  • Pastikan performa mesin dalam kondisi normal
  • Lakukan pengecekan tekanan self-reduce STD 30-36 kg / cm2. lampiran.
  • Lakukan pengecekan tekanan hidrolik untuk semua pastikan tekanan hidrolik masuk dalam standar rangenya. Bila ada kerusakan pada ring ring dan plug up ring pada plug spool arm control valve, maka hasil pengukuran tekanan hidrolik untuk Aram kurang dari standar sehingga daya tekanan aram cylinder sangat rendah
7.Jika saat operasi tuas handel PPC terasa berat dan menghentak.

kemungkinan penyebapnya :
  • self presure raduching valve
  • Kekuatan operasi PPC lever berat dan menghentakhentak karena penyesuaian Self Pressure Reducing Valve terlalu tinggi Saat netral didapat 30 kg / cm2 sedangkan pada saat attachment operasi self reduce pressure ikut naik
langkah perbaikan :
  • ajusment presure selfraduching valve dilakukan pada saat atachmant neutral dan di gerakan
  • standart pressure self raduching valve 33-35 KG/CM2
8.Jika saat sala satu atachmant di gerakan dan atachmant yang lain ikut bergerak saat relief tercapai

kemungkinan penyebabnya :
  • pressure compensation valve
  • Kerusakan sliper seal pada piston pressure compensation valve Dengan rusaknya seal slipper LS tekanan dari sirkuit yang bertekanan tinggi masuk lewat segel yang rusak menuju port yang mengarah ke aktuator yang bergerak.
langkah perbaikan:
  • Lakukan pengecekan pressure control pump STD 30 -36 Kg / cm2.
  • Lakukan pengecekan tekanan relief hidrolik untuk semua attachment STD 325 10 kg / cmz (bucket, boom & arm standard melakukan adjustment main relief Jika hasil kurang dari valve, tidak ada perubahan, maka dan perhatikan Gerakkan salah satu attachment sampai end stroke apakah Ada yang ikut ikut pelan. 
catatata: biasanya Yang paling terlihat ikut bergerak adalah Swing..

9.Jika saat travel di operasikan divinded (lH atau RH)terjadi low power dan susah belok namun jika di operasikan bersama keduanya kondisi normal.

kemungkinan penyebabnya :
  • Hose lines 
  • Selang tekanan LS front pump tertukar dengan selang LS pressure. Real pump, sehingga saat LH berjalan , pompa depan tidak mendapat sensor tekanan LS dari kontrol valve. Dan saat sedang mengoperasikan RH travel rear pump tidak mendapat sensor tekanan Ls dari control valve. LS Sensor LH Front Pump RH Belakang Pum Tertukarnya Sambungan selang tersebut dapat karena Sambungan yang berdekatan dan selang panjang dan hosenya yang sama.
langkah perbaikan:

  • Jack unit dan putar travel LH tidak ada beban.
  • Triger operasikan travel lever RH
  • Jika putaran track LH bertambah lebih cepat, berarti selang dari Pengontrol Valve yang menuju Pompa Utama tertukar antara Pompa Depan dan Pompa Belakang.

Catatan: Pengecekan bisa dibalik dengan perjalanan RH. Prosesor yang tidak tertukar antara selang LS depan dan belakang LS. Jika menandai hilang maka koneksi hosenya adalah sambungan pompa depan LS ke Control valve arm group koneksi pompa belakang LS ke Control valve bucket group Catatan Untuk unit baru hose menggunakan kode warna.

10.Jika presure maksimum hanya mencapai bekisata 160 Kg/cm2 dan maine pump dinyatakan bagus..

kemungkinan penyebabnya :
  • Merge-devinder valve
  • Arah pemasangan LS Spool & Spring LS Spool Merger Devider Valve terbalik.
  • Tidak ada perbedaan diluar diameter spul. Dengan pemasangannya terbalik akan beres PLS Pompa depan akan mertutup sudut Pompa terus menerus.
langkah perbaikan :
  • Arah pemasangan spool tersebut adalah: Sisi spring spool dipasang sejajar dengan sisi spring main spool penggabungan devider valve. Dengan sebuah plug Sisi spring main spool devider valve ditutup

11.Jika engine tetap drop dan tenaga hilang..

silahkan matikan mesin lalu tinggal ngopi dulu.........

..................12selanjutnya   download app klinik alat berat di google play 

Heavy equipment part & service
buldozer, excavator, wheel lloader, vibro, crane, forklift, genset, etc.

Friday, August 2, 2019

KOMPONEN CONTROL VALVE PADA TORQFLOW TRANSMISSION

klinik alat berat
SIANG MENJELANG SORE.....
Jangan lupa bagikan artikel ini kepada temen mekanik ya broo



CONTROL VALVE

Control valve adalah kombinasi dari beberapa valve yang bekerja pada fungsinya masing-masing, antara lain : modulating relief valve, quick return valve, reducing valve, speed valve, safety valve, directional (forward-reverse) valve.
Modulating relief valve, fungsinya :
  • Mengatur dan membatasi maximum oil pressure yang akan digunakan oleh setiap transmission clutch.
  • Bersama-sama dengan quick return valve memodulate pressure sehingga dapat mengurangi kejutan pada clutch . (slow engage) dan sock pada unit yang dapat memungkinkan panjang umur dari setiap komponen.
  • Mengatur (waktu) oil flow yang menuju ke torque converter.


Quick return valve, fungsinya: mengatur langkah gerak dari sleeve dari modulating valve (dengan) mengatur flow oil ke sleeve dan ke drain) sehingga dapat terjadi cepat dalam disengage dan lambat/pelan-pelan dalam engage setiap transmission clutch.

Reducing valve, fungsinya: mengatur arah aliran oil yang akan masuk ke rotary clutch.

Speed valve, fungsinya: mengatur arah aliran oil ke setiap speed clutch dan drain

Safety valve, fungsinya: sebagai penyelamat, jangan sampai unit bergerak (maju/mundur) sebelum dikehendaki operator pada saat engine di start, dengan cara menutup saluran oli yang menuju ke directional control valve.

Directional valve, fungsinya: mengarahkan aliran oil ke directional clutch (forward – reverse) dan drain.



MODULATING RELIEF VALVE

Modulating relief valve terdiri dari valve ( 6 ), piston ( 7 ) dan ( 9 ), piston spring ( 12 ), sleeve spring ( 4 ) dan fungsinya bersama dengan quick return valve ( 13 ) memodulasi tekanan dan merelief tekanan.

Ketika spool speed valve ( 28 ) dan spool directional valve ( 23 ) digerakkan untuk membuka sirkuit dari torqflow pump, fluida mengisi ruangan antara pump dan clutch piston dan pada waktu yang sama pressure mulai naik.Fluida dari pump mengalir melalui orifice ( a ) dari modulating valve ( 6 ), memasuki ruangan antara piston ( 7 ) dan (9), hal ini menyebabkanmodulating valve ke <—- ( kiri ) sehingga membuka port ( h ) menghubungkan modulating valve dan modulating sleeve. ( 8 ).




Fluida yang mengalir orifice ( b ) dari quick return valve ( 13 ) menyebabkan pergerakkan quick return valve ke —–> ( kanan ), sehingga menutup drain port ( c ). Fluida mengalir terus sehingga membangkitkanback pressure pada Modulating sleeve. 
Back pressure modulating sleeve bertambah dengan aniknya pressure dalam sirkuit.Pergerakkan dari modulating sleeve ke < —–( kiri ) menutup port ( h ). Didahului modualting valve yang kemudian diikuti sleeve bergerak ke < —-( kiri) pressure berlanjut naik sehingga sleeve bergerak ke < —( kiri ) sampai menyentuhstopper ( 1 ). Pressure naik hingga setting pressure 20 Kg/cm2. Kenaikan dari modualting pressure tersebut dapat digambarkan dalam grafik dibawah ini

SAFETY VALVE

Safety valve ( 25 ) dipasang antara speed valve ( 28 ) dan directional valve (23). Fungsinya adalah untuk menjaga agar machine tidak bergerak pada saat engine di-start dengan gear engaged ( lever tidak posisi netral ). Agar machine dapat digerakkan, lever harus posisi netral lebih dahulu.

  • Gear shift lever [osisi netral fluida dari reducing valve ( 16 ) mengalir melalui speed valve meuju ke safety valve mengalir melalui orifice ( e ). Aliran nya = Reducing valve. Speed valve —-> directional valve
  • gear shift lever dioperasikan meng-engage- kan gear. Pada saat speed valve digerakkan ke salah satu speed. Fluida sebelah kanan safety valve didarin melalui orifice ( e ).Fluida dari speed valve sebelah kanan mengalir ke safety valve kemudian masukorifice ( f ) menggerakkan piston ke kanan, sehingga menyebabkan safety valve tetap pada posisinya dan sirkuityang ke directional valve dibuka
  • Ketika engine di start dengan gear shift lever tidak netral. Ketika lever tidak netral maka fluida dari reducing valve tidak berhubungan denganorifice ( e ). Pada kondisi ini, safety valve tidak bergerak ke kiri untuk membuka aliran sirkuit dari reducing valve directional valve sehigga machine tidak bisa bergerak.
REDUCING VALVE

Reducing valve ( 16 ) dipasangkan pada sirkuit antara modulating valve ( 6 ) danspeed valve ( 28 ) dan menjaga pressure oli pada clutch 1 dibawah 12,5 kg/cm2. Pressure sistem semua diset oleh modulating relief valve 20 kg/m². Ketika pressure pada clutch 1 naik, piston ( 15 ) digeser ke kanan oleh aliran fluida melalui orifice ( g ) dari reducing valve, menyebabkan reducing valve bergerak ke kiri. Hal ini akan menyebabkan pressure yang akan menuju ke speed clutch 1 menjadi terpelihara sebesar 12,5 kg/cm².

SPEED VALVE


Speed valve, fungsinya: mengatur arah aliran oil ke setiap speed clutch dan drain. Mekanismenya diatur oleh operator dengan cara memindahkan lever transmisi ke posisi yang dikehendaki.


DIRECTIONAL VALVE

Directional valve, fungsinya: mengarahkan aliran oil ke directional clutch (forward – reverse) dan drain. Sama seperti halnya dengan speed valve, gerakannya dikontrol oleh operator dari dalam cabin.



buldozer, excavator, wheel lloader, vibro, crane, forklift, genset 

Wednesday, July 10, 2019

APA PENYEBAB SEAL HYDROLIX BOCOR TERUS?...

klinik alat berat
Terkadang serasa menjengkelkan apabila seal hydrolix sering bocor,.. padahal baru beberapa saat kita mengganti repair kit khususnya di bagian hydroulix cilinder baik pada forklift maupun alat berat ,hal yang sering terjadi pada karena beberapa kemungkinan seperti kasus pada unit unit ini di antaranya pada :



FORKLIFT
  • cylinder lift
  • cylinder tilt
  • power cylinder ( steering )

TRUCK
  • hydrolix cabin
  • hydrolix wing box

ALAT BERAT
  • cylinder bucket
  • cylinder arm
  • cylinder boom
  • cylinder steering

MOBIL
  • cylinder steering
    pada saat mengetahui seal hidraulik bocor tentu kita akan segera melakukan perbaikan dan penggantian dan yang sering muncul di awal pemikiran kita tentulah sealnya rusak atau aus.

memang betul itu karena bila sealnya rusak sudah tentu oli hidraulik bocor.
lalu setelah di ganti seal atau bahkan repair kitnyapun menggunakan sparepart yang original tetapi beberapa saat kemudian bocor lagi dan bocor lagi,tentu jadi pusing dan menjengkelkan bukan?.....

lalu dimana letak penyebabnya yang kadang terlewatkan oleh pengamatan kita.
mari kawan kita lihat bersama pada saat melakukan penggantian seal hydrolik coba kita perhatikan yang berikut ini :

  • cek kondisi cylinder atau tabung nya kemungkinan cacat,baret
  • cek kondisi shaft atau as nya kemungkinan baret atau bengkok
jika kondisi tabung dan shaft tidak cacat,baret ataupun bengkok kemudian repair kit kita ganti baru coba cek satu hal vital yang tentu tidak boleh kita anggap sepele dan harus segera di perbaiki karena ini penyumbang kebocoran yang terus menerus.


    


mari kita lihat gambar berikut ini khususnya item nomer 6 dan 105
item no 6 adalah pin dan item no 105 adalah bushing ini hal vital penyumbang seal hydrolik selalu bocor terus menerus yang kadang luput dari pengamatan kita...

kenapa bisa demikian...?

karena bushing dan pin adalah sebagai pondasi tempat pijakan cilinder hidraulik agar tidak goyang lepas atupun miring.jadi bahasa sederhananya pin dan bushing tidak boleh aus longgar ataupun oblag bahasanya umumnya karena bila posisinya longgar otomatis pada saat piston dan as bekerja terdorong keluar ataupun masuk dari tabungnya akan miring tidak lurus mengakibatkan as menggesek dan menekan seal sudah barang tentu seal yang terbuat dari karet di tekan begesekan dengan besi tidak akan lama akan sobek ataupun rusak

perhatikan juga gambar no 106 yaitu as atau shaft yang akan keluar masuk melewati item no 109 , cup itu cuma di tahan atau di tutup dengan item no110 yaitu seal kit dan antara as dan cup tidak boleh begesekan , tapi bila penyangga atau pondasinya longgar / bushing dan pin nya aus sudah tentu akan miring dan mengakibatkan bergesekan antara besi shaft dengan besi cup yang sudah pasti menghancurkan seal

gambar tersebut kami ambil dari cilinder hidraulik secara umum saja.demikian pembahasan tentang mengapa cylinder hidraulik selalu bocor padahal seal kit baru di ganti tabung dan as masih bagus.ini sekedar pengalaman kami saja 

jika artikel ini menarik silahkan bagikan ke teman teman anda semoga bisa memberi wawasan tambahan buat temen temen kita yang mungkin sedang membutuhkan info 

klinik alat berat
salam sukses bersama

service alat berat buldozer, excavator, wheel lloader, vibro, crane, forklift, genset call 081283011641

Monday, July 1, 2019

KODE EROR PADA SK200-8

klinik alat berat

Di artikel ini saya akan menjelaskan tentang kode error yang muncul di monitor kobelco sk200-8, dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

Error code di bagian engine system :
  • P2228 - Sensor tekanan atsmosphere rusak (LO).
  • P2229 - Sensor tekanan atsmosphere rusak (HI).
  • P0192 - Sensor tekanan common rail rusak (LO).
  • P0193 - Sensor tekanan common rail rusak (HI).
  • P0191 - Sensor tekanan common rail rusak.
  • P0237 - Sensor boost rusak (LO).
  • P0108 - Sensor boost rusak ( HI).
  • P0117 - Sensor air temperature rusak (LO).
  • P0118 - Sensor air temperature rusak (HI).
  • P0182 - Sensor temperature bahan bakar rusak (LO).
  • P0183 - Sensor temperature bahan bakar rusak (HI).
  • P0335 - System main sensor kecepatan rusak, mesin tidak bisa hidup.
  • P0340 - System cadangan sensor kecepatan rusak, mesin tidak bisa hidup.
  • P2120 - System dual thorttle rusak, kecepatan mesin turun ke idle di 800 rpm.
  • P2121 - Tegangan/voltage sensor thorttle tidak normal.
  • P2122 - Sensor thorttle rusak (LO).
  • P2123 - Sensor thorttle rusak (HI).
  • P2126 - Sensor thorttle 2 voltage tidak normal.
  • P2127 - Sensor thorttle 2 rusak (LO).
  • P2128 - Sensor thorttle 2 rusak (HI).

Error code di bagian switch, relay dan system :

  • P0540 - Preheat device rusak ( open circuit / short to body ).
  • P0617 - Switch starter rusak.
  • P0686 - Main relay rusak.

Error code di bagian fuel pump system :

  • P0629 - Solenoid suplai bahan bakar sirkuit mengalami kerusakan C+B short sirkuit, mesin tidak dapat hidup.
  • P0628 - Solenoid pompa bahan bakar sirkuit rusak, output menurun.
  • P2635 - Historikal ketidak normalan tekanan pompa bahan bakar.
  • P2635 - Solenoid pompa bahan bakar macet.
  • P0088 - Tekanan rail tidak normal, output menurun, fuel injection system rusak.
  • P1211 - Solenoid injector rusak, (GND short circuit, output rendah ON/OFF cylinder (1,4).
  • P1214 - Injector solenoid valve drive system 2 rusak (GND short circuit).
  • P1212 - Injector rail a solenoid valve drive system failure (+ short circuit B / open circuit).
  • P1215 - Injector solenoid valve drive system common rail 2 failures (+ short circuit - circuit B / open circuit), output on/off rendah operasi silinder (2x,3x).
  • P1601 - Multi-point fuel injector correction exceptions, output decline.
  • P0201 - Injector solenoid valve circuit breaker, output drops on/off cylinder operation)
  • P0202 - Solenoid injector 2 circuit breaker, output drops on/off cylinder operation two times.
  • P0203 - Solenoid injector 3 circuit breaker, output drops on/off cylinder operation three times.
  • P0204 - Solenoid injector 4 circuit breaker, output drops on/off cylinder operation four times.
  • P0263 - Cylinder correction Fault 1.
  • P0266 - Cylinder correction Fault 2.
  • P0269 - Cylinder correction Fault 3.
  • P0272 - Cylinder correction Fault 4.
EGR system : 

  • P0489 - EGR valve is a linear solenoid valve malfunction short ke body.
  • P0490 - EGR valve is a linear solenoid valve malfunction, short ke batterai.
  • P0404 - EGR valve is stuck in a output drop.
  • P0405 - EGR valve is a safety sensor rusak (LO).
  • P0406 - EGR valve is a safety sensor rusak (HI).
Turbine system fault code :

  • P0234 - Turbo terlalu besar, output turun.
Engine system (state judge) fault code :

  • P0217 - Over heating output declined.
  • P0219 - The engine coaster communication : U1001, CAN communication interruption (vehicle).
ECU system :

  • P0611 - ECU poor charging circuit (LO), the output decline.
  • P0200 - ECU poor charging circuit (HI).
  • P0605 - ROM exception.
  • P0606 - CPU failure, the engine will not start the stopped.
  • P0607 - CPU monitoring IC exception , output decline.
Hydraulic system fault codes :

  • A015 - Engine adjustment (A adjustment) in not adjusted yet or is failed.
  • A025 - Pump propo, valve adjustment (B adjustment) in not adjusted yet or is failed.
  • A035 - Unload valve adjustmen (C adjustment) in not adjusted yet or is failed.
  • A215 - Written data of ROM adjustment data is inccorect.
  • A225 - Writting of ROM adjustment data is incorrect.
  • A235 - Writting data of ROM hour meter data is inccorect.
  • A245 - Writting of ROM hour meter data is inccorect.
  • A255 - Writting of proportional valve adjustment data is incorrect.
  • B012 - Kesalahan output di sensor tekanan boom naik.
  • B013 - Disconnection di sensor tekanan boom naik.
  • B014 - Short circuit di sensor tekanan boom naik.
  • B022 - Kesalahan outup pada sensor tekanan boom turun.
  • B023 - Disconnection pada sensor tekanan boom turun.
  • B024 - Short circuit pada sensor tekanan boom turun.
  • B032 - Kesalahan output pada sensor tekanan arm keluar.
  • B033 - Disconnection pada sensor tekanan arm keluar.
  • B034 - Short circuit pada sensor tekanan arm keluar.
  • B042 - Kesalahan output pada sensor tekanan arm masuk.
  • B043 - Disconnection pada sensor tekanan arm masuk.
  • B044 - Short circuit pada sensor tekanan arm masuk.
  • B052 - Kesalahan output pada sensor tekanan bucket masuk.
  • B053 - Disconnection pada sensor tekanan bucket masuk.
  • B054 - Short circuit pada sensor tekanan bucket masuk.
  • B062 - Kesalahan output pada sensor tekanan bucket keluar.
  • B063 - Disconnection pada sensor tekanan bucket keluar.
  • B064 - Short circuit pada sensor tekaanan bucket keluar.
  • B072 - Kesalahan output pada sensor tekanan swing.
  • B073 - Disconnection pada sensor tekanan swing.
  • B074 - Short circuit pada sensor tekanan swing.
  • B092 - Kesalahan output pada sensor tekanan travel kanan.
  • B093 - Disconnection pada sensor tekanan travel kanan.
  • B094 - Short circuit pada sensor tekanan travel kanan.
  • B102 - Kesalahan output pada sensor tekanan travel kiri.
  • B103 - Disconnection pada sensor tekanan travel kiri.
  • B104 - Short circuit pada sensor tekanan travel kiri.
  • B113 - Disconnection pada sensor optional selector positioning.
  • B114 - Short circuit pada sensor optional selector positioning.
  • B162 - Kesalahan output pada sensor tekanan sisi P1 optional.
  • B163 - Disconnection pada sensor tekanan sisi P1 optional.
  • B164 - Short circuit pada sensor tekanan sisi P1 optional.
  • B172 - Kesalahan pada sensor teakana sisi P2 optional.
  • B173 - Disconnection pada sensor tekanan sisi P2 optional.
  • B174 - Short circuit pada sensor tekanan sisi P2 optional.
  • C012 - Kesalahan output pada sensor tekanan pompa P1.
  • C013 - Disconnction pada sensor tekanan pompa P1.
  • C014 - Short circuit pada sensor tekanan pompa P1.
  • C022 - Kesalahan output pada sensor tekanan pompa P2.
  • C023 - Disconnection pada sensor tekanan pompa P2.
  • C024 - Short circuit pada sensor tekanan pompa P2.
  • C033 - Disconnection pada sensor tekanan boom head.
  • C034 - Short circuit pada sensor tekanan boom head.
  • C043 - Disconnection pada sensor tekanan boom rod.
  • C044 - Short circuit pada sensor tekanan boom rod.
  • D012 - Kerusakan output transistor ON pada P1 unload proportional valve.
  • D013 - Disconnection pada P1 unload proportional valve.
  • D022 - Kerusakan output transistor ON pada P2 unload proportional valve.
  • D023 - Disconnection pada P2 unload proportional valve.
  • D032 - Kerusakan outout transistor ON pada travel straight proportional valve.
  • D033 - Disconnection pada travel straight proportional valve.
  • D062 - Kerusakan output transistor ON pada arm masuk high speed proportional valve.
  • D063 - Disconnection pada arm masuk high speed proportional valve.
  • E012 - Kerusakan output transistor ON pada P1 pump proportional valve.
  • E013 - Disconnection pada P1 pump proportional valve.
  • E022 - Kerusakan pada output transistor ON pada P2 pump proportional valve.
  • E023 - Disconneciton pada P2 pump proportional valve.
  • F011 - Kerusakan output transistor OFF dan GND short pada attachment boost solenoid valve.
  • F013 - Kerusakan output transistor ON dan disconnection pada attachment boost SOL valve.
  • F021 - Kerusakan output transistor OFF dan GND short pada swing parking solenoid valve.
  • F023 - Kerusakan output transistor ON dan disconnection pada swing parking SOL valve.
  • F031 - Kerusakan output transistor OFF dan GND short pada travel 1-2 speed SOL valve.
  • F033 - Kerusakan output transistor ON dan disconnection pada travel 1-2 speed SOL valve.
  • F041 - Kerusakan output transistor OFF dan GND short pada optional selector SOL valve.
  • F043 - Kerusakan output transistor ON dan disconnection pada optional selector SOL valve.
  • G032 - Overrun of speed sensor of direct input Mecha-controller.
  • G033 - Disconnection pada sensor speed input Mecha-controller.
  • G042 - Overun of speed sensor direct input Mecha-controller dan received data dari E/G controller.
  • G043 - Disconnection pada speed sensor direct input Mecha-controller dan penerimaan data dari E/G controller.
  • H013 - Disconnection pada potensio acceleration.
  • H014 - Power short pada potensio acceleration.
  • H023 - Disconnection pada potensio boom angle.
  • H023 - Power short pada potensio boom angle.
  • H033 - Disconnection pada potensio arm angle.
  • H034 - Power short pada potensio arm angle.
  • H091 - Kerusakan GND short circuit pada sensor fuel.
  • H093 - Disconnection fuel sensor.
  • I111 - Penerimaan error pada CAN1 communication (passive error).
  • I113 - Penerimaan error pada CAN1 communication (time out).
  • I313 - Penerimaan error pada cluster communication (time out error).
  • K014 - Adhesion of battery relay terminal.
  • R014 - Kerusakan pada arc prevention relay of wiper motor.
  • R024 - Kerusakan pada normal rotation relay of wiper motor.
  • R034 - Kerusakan pada reverse rotation relay of wiper motor.
  • R044 - Kerusakan pada washer motor relay.
  • R134 - Kerusakan pada swing flasher relay.
  • R144 - Kerusakan pada swing flasher relay.
  • R154 - Kerusakan pada travel alarm relay.
  • R164 - Kerusakan pada auto idling stop relay 2.
  • R174 - Kerusakan pada engine arcible stop relay.
  • R184 - Kerusakan lever lock relay.
  • R214 - Kerusakan pada safety relay.
SEMOGA BISA MEMBANTU SEDIKIT PEMAHAMAN TENTANG EROR PADA EXCAVATOR SK200

Monday, February 25, 2019

Prosedur penyetelan tekanan hidrolik swing motor pada hitachi zx200

klinik alat berat
  • Lepas swing relief valve menggunakan kunci 41 mm
  • Lepas plug (5) menggunakan kunci 30 mm , sleeve (4) dan piston (3)
  • Sesuaikan setting tekanan dengan memasang shim (2) diantara piston (3) dan spring seat (1)
  • Setelah di sesuaikan pasang piston (3), sleeve (4) dan plug (5)
  • Pasang swing relief valve
  • Periksa ulang tekanan



Berikut tabel standard pemasangan shim

service alat berat buldozer, excavator, wheel lloader, vibro, crane, forklift, genset call 081283011641


cara settting hydrolix presur pada excavator hitachi zx 200

klinik alat berat
Pada Excavator dengan sistem hidrolik tentu bergantung pada tekanan yang ada di sistem hidroliknya. Jika tekan hidroliknya lemah maka excavator juga low power, dan jika tekanan hidrolik excavator kuat maka excavator juga bertenga. Nah disini saya akan memberikan tips bagaimana langkah-langkah untuk setting tekanan hidrolik pada excavator hitachi Zaxis 200. Meskipun disini saya menjelaskan di hitachi zx200 namun di semua merk lain juga sama, hanya beda konstruksinya saja.

Ada dua sistem yang berbeda tekanan dalam hidrolik excavator :
  • Main Hidrolik Pressure
  • Pilot Hidrolik Pressure

Main relief test pressure

Untuk pembacaan tekanan di main hidrolik bisa menggunakan monitor di unit dalam menu service atau memakai presuure gauge. Disini saya akan menjelaskan dengan menggunakan pressure gauge.

Untuk persiapan pengetesan :

  • Matikan engine
  • Tekan bleeding valve di atas tutup tangki hidrolik
  • Lepas plug di port delivery main pump menggunakan kunci L 6 mm
  • Pasang adapter dan selang pressure gauge
  • Hidupkan mesin dan periksa apakah adanya kebocoran oli di adapter pressure gauge
  • Pertahankan suhu oli hidrolik di 50 derajat celcius
Untuk pengukuran : 

  • Rpm mesin di posisi high idle
  • Gerakan setiap aktuator untuk pengukuran tekanan. Yang pertama operasikan bucket perlahan, arm, dan boom ke posisi full stroke untuk mengetahui tekanan pada saat operasi tanpa beban.
  • Untuk swing tancapkan bucket ke tanah agar upperstruktur tertahan dan gerakan swing ke kanan atau ke kiri dan tahan selama 8 detik lalu ukur tekananya.
  • Untuk travel tahan travel supaya tidak bisa berjalan lalu tarik lever trave full stroke dan tahan 8 detik lalu baca tekanannya.
  • Untuk actuator bucket, arm dan boom tarik lever full stroke dan tahan sampai 8 detik lalu baca tekanannya satu persatu.

Penyetelan :

Stel tekanan main relief valve menggunakan plug no (3) (untuk sisi tekanan rendah rellief pressure setting) dan plug no (5) (untuk sisi tekanan tinggi relief pressure setting).

Prosedur penyetelan sisi tekanan tinggi pada main relief

  • Kendorkan mur pengunci (1) menggunakan kunci 27 mm. Kencangkan pelan-pelan plug (3) hingga ujung plug (3) bersentuhan dengan piston (2) lalu kencangkan mur pengunci (1)
  • Kendorkan mur pengunci (4) menggunakan kunci 32 mm. Setting plug (5) mengacu pada tabel di bawah ini.

Prosedur penyetelan di sisi tekanan rendah :

  • Kendorkan mur pengunci (1) hidupkan plug (3) berlawanan arah jarum jam dengan perlahan sampai mendapatkan nilai yang di tentukan dengan melihat tabel putaran di bawah.
  • Cek kembali tekanan


service alat berat buldozer, excavator, wheel lloader, vibro, crane, forklift, genset call 081283011641

Wednesday, January 30, 2019

Mekanisme Steering System Pada alat berat Bulldozer

klinik alat berat

1. Outer drum
2. Disc
3. Plate
4. Inner drum
5. Bolt
6. Piston
7. Seal piston
8. Spacer
9. Spring small
10. Spring large
11. Pressure plate
12. Bolt
13. Bevel gear shaft hub
14. Bevel gear shaft 

tipe steering system pada crawler machine sebagian besar adalah mechanical clutch, dimana dalam pengendaliannya menggunakan clutch yang terdiri dari disc dan plate yang tersusun diantara inner drum dan outer drum serta dipasang pada kedua ujung bevel gear shaft.

Fungsi komponen-komponen utama steering system tipe mechanical clutch, adalah :
• Clutch drum atau inner drum, dibaut pada bevel gear shaft hub yang terikat pada spline bevel
gear shaft, berfungsi sebagai tempat kedudukan plate juga berfungsi sebagai silinder .
• Bevel gear shaft hub, mengalirkan oli dari steering control valve ke piston.
• Brake drum atau outer drum, dibaut pada final drive flange berfungsi sebagai tempat kedudukan
disc.
• Plate, terbuat dari baja tahan karat serta tahan temperatur tinggi. Plate ini berfungsi sebagai
friction plate dan duduk pada spline outer drum.
• Disc, terbuat dari baja, bagian luar diberi lapisan bronze yang berguna untuk mengurangi
keausan. Disc berfungsi sebagai friction plate dan duduk pada spline inner drum.
• Pressure plate, terpasang tetap ke piston oleh bolt. Piston dan pressure plate bergerak secara
bersamaan berfungsi sebagai pendorong disc secara langsung.
• Spring, berfungsi sebagai sumber kekuatan untuk menekan susunan disc dan plate dengan
perantaraan pressure plate.

Proses pemindahan tenaga pada clutch sangat tergantung kepada :
• Gaya tekanan (P) yang diperoleh dari spring atau hidrolik.
• Koefisien gesek (u) tergantung dari jenis material.
• Area (A) tergantung dari luas permukaan yang bergesekan.


service alat berat buldozer, excavator, wheel lloader, vibro, crane, forklift, genset call 081283011641

Friday, November 23, 2018

oil presure drops pada excavator pc200-8

klinik alat berat

Selengkapnya tentang permasalahan error pada unit komatsu excavator atau berminat mendapatkan buku2 manual lengkap bisa langsung email di service.sparepart.alatberat@gmail.com

excavator / buldozzer / dumptruck / motor grader / forklift / crane dll
General overhoul, Periodik service, Remanufacturing, Trouble shooting, Fabrikasi, part 

Licensi

sertifikasi mekanik, std klinik tool, std manual book , std work sheet, safety first

Warranty

agreement temporary


konsultasi langsung di 
081283011641   .

Saturday, September 9, 2017

CARA SETTING MAIN PUMP

klinik alat berat
CLSS ( Closed Center Load Sensing System ) yang mempunyai beberapa kelebihan yaitu :
- Fine control tidak terpengaruh dengan load.
- Fine control bisa dilakukan walaupun untuk kerja digging.
- Pada saat proses kombinasi dapat dilakukan dengan lebih mudah, karena dengan adanya flow divider.
- Lebih hemat energi dengan adanya variable pump kontrol sesuai beban yang diterima pada saat operasi.



CLSS terdiri dari 4 komponen utama yaitu variable capacity piston pump, control valve, dan hydraulic cylinder.
Hydraulic pump terdiri dari pump body, PC valve dan LS valve.

Prinsip dasar CLLS system pada hydraulic excavator komatsu:
Untuk pengaturan sudut pompa menggunakan LS valve dan PC valve.
LS valve akan bekerja berdasarkan perbedaan pressure dari main pump pressure PP dengan LS pressure yang berasal dari output control valve. Atau SPLS = PP – PLS.
Sudut swash plate pada main pump akan akan menjadi maksimum pada saat SPLS berada di bawah set pressure LS valve.
Hal ini terjadi pada saat load dari actuator besar. Dan bila SPLS berada di atas set pressure maka sudut pompa akan menjadi minimum.

Fungsi LS Valve
LS (Load Sensing) valve akan digunakan untuk mendeteksi beban kerja dan mengatur flow discharge main pump.
Valve ini akan mengatur main pump delivery (Q) sesuai dengan differential pressure (∆PLS) = PP–LS, disebut sebagai LS differential pressure karena merupakan perbedaan antara main pump pressure PP dan control valve outlet port pressure PLS.
Pressure (PLS) atau disebut sebagai LS pressure akan masuk dari control valve output.LS selector pressure akan masuk dari proportional solenoid valve.

Hubungan antara LS differential pressure dengan main pump pressure (PP) dan LS pressure (PLS) adalah : ∆PLS = PP – PLS
Dan pump delivery (Q) akan berubah.Perubahan tersebut mengacu kepada LS selector current (ISIG) dari LS-EPC valve.

Bila arus LS - EPC berubah dari 0 Ampere menjadi 1 Ampere, maka setting kekuatan dari spring juga akan berubah maka pump delivery switching point akan berubah.
Bila LS differential berubah pada pada 10 kg/cm2 sampai dengan 25 kg/cm2, maka controller akan merubah supply arus menuju ke LS – EPC, sehingga LS – EPC akan memberikan supply pressure oli yang akan digunakan untuk mendorong LS valve.
Bila arus yang masuk ke LS – EPC semakin besar, maka supply oli yang akan keluar menuju ke LS valve juga akan semakin besar.Semakin besar LS differential pressure, maka sudut pompa akan menjadi semakin minimal.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulan bahwa LS valve adalah, bila control valve dalam keadaan netral, maka sudut pompa akan dibuat menjadi minimum untuk mengurangi kerugian hydraulic / hydraulic loss pada saat attachment tidak digerakkan.
Kemudian pada saat hydraulic system relief karena beban berlebih maupun saat cylinder berada di posisi end stroke, maka sudut pompa juga akan diposisikan ke posisi minimum untuk mencegah terjadinya overheat hydraulic dan beban berlebih yang diterima oleh engine.
Pompa akan berada pada posisi sudut maksimum atau flow discharge besar pada saat unit beroperasi dan pressure di system tidak melebihi relief system.

Fungsi PC Valve :
Pada saat pump discharge pressure PP1 (self pressure) dan PP2 (other pump pressure) dalam kondisi high pressure, maka PC valve akan mengatur kerja dari pompa.Sehingga, banyaknya flow oli yang akan di supplay ke control valve akan dijaga sesuai beban dari engine, walaupun control lever telah kita digerakkan ke posisi full stroke.

Bila discharge pressure dari pompa telah mengalami kenaikan pressure karena beban yang diterima selama operasi, maka PC valve akan menurunkan flow delivery dari pompa.Namun bila pump delivery pressure menjadi turun, maka PC valve akan menaikkan pump delivery.

Controller akan memonitor actual engine speed dengan menggunakan media engine speed sensor.
Bila engine speed mengalami penurunan karena bertambahnya beban operasi, maka controller akan mengurangi sudut pompa.Sehingga, pump flow delivery akan berkurang.Bila pump flow delivery berkurang, maka engine tidak akan mati karena beban operasi yang berlebihan.

Demikian sedikit penjelasan mengenai CLLS system pada hydraulic system excavator komatsu,semoga bermanfaat dan akan saya lanjutkan di kesempatan yang akan datang.

                           ⇣⇣⇣

PILIH SHOP MANUAL

Friday, September 8, 2017

HYDROLIX SISTEM

klinik alat berat
1.Circuit Open Centre (OLSS- Open center Load Sensing System)
Flow dicharge pump akan dikembalikan ke tank pada saat control valve posisi netral, sehingga pressure pump cenderung kecil (pada unit yang menggunakan type variable piston pump, sudut pump akan dperkecil sehingga flow discharge pump juga kecil.) 

2.Circuit Close Centre
Flow dicharge pump tidak dikembalikan ke tank spool pada saat control valve posisi netral, sehingga selalu terdapat standby pressure dan agar tidak terjadi kenaikan pressure yang berlebihan maka oli akan dibebaskan melalui relief valve (pilot circuit) atau unloader valve (main circuit) untuk membatasi besarnya pressure. Dengan adanya standby pressure maka pergerakan attachment responsive sesuai gerakan PPC valve atau lever control.


3.Stand by Pressure
Karena flow dicharge pump tidak dikembalikan ke tank pada saat control valve posisi netral, sehingga pressure akan terjadi, untuk mengatur besar pressure dibatasi oleh relief valve (pilot circuit) atau unloader valve (main circuit). Dengan adanya standby pressure maka pergerakan actuator responsive sesuai pergerakan lever control.

4.Pressurized Tank 
Hydraulic tank yang breathernya menggunakan pressure valve (+ vaccum vaccum), sehingga pressure dalam tank dipertahankan pada cracking pressure (nilai tension spring pressure valve), dengan tujuan membantu kerja pump untuk mencegah terjadinya cavitasi.

5.Hydraulic Lock
Suatu valve (spool) tidak bisa bergerak (jammed) karena adanya pressure yang bekerja atau menekan valve secara tidak merata, sehingga terjadi kecenderungan valve ditekan hanya pada satu sisi. Untuk mencegah terjadinya hydraulic lock, maka pada spool atau valve dibuatkan alur melingkar atau Groove.

6.Hydraulic Relief Losses
Kehilangan tenaga engine pada saat relief pressure tercapai, sedangkan flow discharge pump masih besar. Saat relief pressure tercapai, attachment sudah tidak dapat bergerak, sehingga akan terjadi kerugian, jika pump masih menghasilkan flow yang besar dan kelebihan flow oli akan dibebaskan melalui relief valve, sehingga dapat menyebabkan overheat. Sehingga untuk mencegah hal tersebut maka sudut pump diperkecil dengan fungsi CUT-OFF.

7.Setting Pressure of Relief Valve
Hasil pembacaan pressure gauge pada saat control valve (PPC valve) digerakkan, sedangkan actuator (hydraulic cylinder atau motor) tidak bergerak. Besarnya Setting pressure bervariasi sesuai dengan Flow discharge pump (setting pressure saat low idle akan lebih kecil dibanding saat high idle atau adanya perbedaan sudut pump)

8.Cracking Pressure of Relief Valve
Besarnya pressure pada saat awal valve mulai terbuka, yang nilai pressurenya diatas nilai tension springnya. Cracking pressure akan berubah hanya pada saat dilakukan adjustment. 

9.Pick Up Pressure
Plug atau coupler untuk memasang pressure gauge (hose adapter) saat measurement.

10.Flow Rate
Besar max flow discharge pump dalam satuan liter per menit.

11.Back Pressure
Pressure dalam system yang terjadi karena adanya resistance atau orifice.

12.Fixed Displacement Pump
Type pump dimana satu putaran shaft pump menghasilkan flow discharge yang konstan atau tidak dapat berubah. 

13.Variable Displacement Pump
Type pump dimana satu putaran shaft pump menghasilkan flow discharge yang dapat berubah sesuai sudut pump.

14.Axial Piston Pump
Piston pump yang pergerakan pistonnya searah dengan sumbu, Tipe ini banyak digunakan karena selain mampu bekerja pada pressure tinggi, juga konstruksinya lebih sederhana dibandingkan Radial piston pump yang memerlukan mekanisme inlet-outlet valve.

15.Swash Plate
Suatu mekanisme yang digunakan untuk mengatur dan merubah sudut piston pump, swash plate digerakkan oleh servo piston yang diatur servo valve.

16.Axial pistol Pump.bend axis
Type piston pump yang sudut pumpnya terbentuk karena drive shaft dengan cylinder barrel shaft tidak segaris, hal ini dapat dilihat dari bentuk housingnya yang bengkok. Karena torsional force yang terjadi pada shaft pump relative besar sehingga bearing yang digunakan sebagai tumpuan shaft, jumlahnya lebih banyak dan ukurannya besar, jika disbanding yang digunakan pada axial piston pump swash plate.

17.5/4 Spool Control Valve
Suatu system spool control valve yang mempunyai 5 port yang terdiri : port Inlet Bypass, Inlet standby, Outlet bypass (tank) dan 2 port Outlet-Inlet actuator, spool dapat digerakkan pada 4 posisi pergerakan spool, misal Raise, Hold, Float dan Lower.

18.Groove
Untuk mencegah terjadinya hydraulic lock, maka pada spool dibuatkan alur melingkar (groove). Agar valve (spool) bisa bergerak karena pressure akan bekerja atau menekan sekeliling spool sehingga memposisikan spool ditengah (segaris dengan sumbu). 

19.Directional Control Valve 
Suatu valve yang berfungsi untuk mengarahkan aliran oli ke actuator, sehingga attachment dapat bergerak sesuai yang diinginkan.

20.Flow Control Valve 
Suatu valve yang berfungsi untuk mengatur jumlah (quantity) aliran yang diperlukan oleh suatu system (actuator- attachment)

21.Pressure Control Valve
Suatu valve yang berfungsi untuk membatasi pressure maksimal dalam suatu system.

22.Free Length of spring
Ukuran panjang spring pada kondisi bebas, tidak terpasang.

23.Installed Length of Spring
Ukuran panjang spring pada kondisi terpasang atau saat dibebani dengan beban tertentu.

24.Installed Load of spring
Besar beban tertentu yang diberikan pada spring, yang besar bebannya sebanding dengan beban saat pemasangan spring.

25.Main Spool Valve
Spool yang dipasang dalam housing control valve dan berfungsi sebagai directional valve. Main spool digerakkan oleh pilot pressure pada kedua sisinya. Pada spool terdapat Groove untuk mencegah terjadinya hydraulic lock dan Notch (coakan pada bidang bukaan) yang berfungsi untuk mendapatkan efek Fine Control saat pergerakan spool dan flow oli, sehingga actuator (attachment) dapat digerakkan dengan smooth.

26.Aeration 
Masuknya udara kedalam system saat melakukan pekerjaan repair, assembling atau mounting komponen hydraulic, sehingga dapat menimbulkan cavitasi, untuk menghilangkan udara yang terjebak harus dilakukan Air bleeding.

27.Hydraulic Cushion Cylinder 
Suatu mekanisme cushion yang dipasang pada sisi head dan atau sisi bottom cylinder hydraulic, yang berfungsi untuk mencegah terjadinya benturan antara rod piston dengan cylinder housing, pada saat rod piston mendekati akhir langkah (end stroke) dengan cara menjebak oli dan membebaskannya secara bertahap.

28.Hydraulic Circuit parallel 
Control valve dengan sistem pembagian flow oli yang merata, sehingga beberapa actuator dapat digerakkan secara bersamaan. Sehingga diperlukan flow discharge yang relative besar untuk dapat menggerakkan semua attachment secara bersamaan.

30.Hydraulic Circuit Tandem 
Control valve dengan sistem pembagian flow oli lebih prioritas pada spool (actuator) pertama, sehingga untuk dapat menggerakkan actuator kedua, spool pertama harus diposisikan netral. Contoh : sirkuit hydraulic pada Wheel loader- 1st spool ; bucket, 2nd spool : lift

31.Coating material
Bahan yang dioleskan ke komponen sebagai pelapis untuk mencegah kebocoran, perekat, anti karat, dsb, (Adhessive, gasket sealant, lubricant, grease) contoh : Loctite, dsb.

32.Press fit
Suaian sesak

33.Bending
Kebengkokan rod cylinder yang biasanya disebabkan accident, benturan atau beban dari luar. Sedangkan untuk yang double cylinder, faktor bending cenderung lebih besar, terutama yang menggunakan independent link (link terpisah antar cylinder), karena saat salah satu cylinder bekerja tidak normal, maka akan menimbulkan torsional force. 

34.Pitting
Kerusakan pada permukaan komponen berupa bopeng, yang disebabkan cavitasi (udara terjebak dalam fluida) 

35.Shringking fit
Metode yang digunakan untuk memasang komponen press fit, dengan cara menyusutkan atau memuaikan komponen yang akan dipasang. Contoh: bushing disusutkan, bearing dimuaikan. 

36.Flatness
Kerataan permukaan suatu komponen.

37.Roudness
Kebulatan suatu shaft yang ditentukan oleh pengukuran X – Y pada penampang melintang.

38.Scratch
Kerusakan pada permukaan komponen berupa baret atau goresan yang biasanya memanjang yang disebabkan gesekan yang berlebihan atau ada material asing yang terjepit diantara dua komponen yang bergerak.

39.Chipping
Kerusakan pada permukaan komponen yang disebabkan benturan yang keras sehingga rompal.

40.Marking
Pemberian tanda pada komponen untuk mempermudah pemasangan kembali sehingga mencegah salah pemasangan serta menghindarkan pekerjaan berulang. 

41.Crack
Kerusakan pada komponen berupa keretakan yang disebabkan material fatique, overload, overheat, benturan, dsb. 

42.Standard size
Ukuran akhir dari suatu komponen yang masih baru atau yang sudah direpair

43.Repair limit
Batas ukuran dari suatu komponen yang mengalami perubahan ukuran karena keausan, jika telah mencapai repair limit, komponen harus diganti agar komponen masih dapat direpair.

44.Tolerance
Batas penyimpangan atau perbedaan ukuran yang diijinkan dari ukuran yang direncanakan, dan tolerance dituliskan berupa angka kecil dibelakang angka Nominal

45.Standard clearance (standard range)
Celah bebas atau kerenggangan antara dua komponen, sesuai dengan besar tolerancenya, sehinga nilai standard clearance bervariasi dalam range minimal dan maksimal.

46.Flushing
Membersihkan kandungan material asing atau kontaminan di dalam sistem (fluida).

47.Air Bleeding
Melakukan pembuangan angin yang terjebak dalam cylinder, motor, pump dan komponen lainnya setelah penggantian ataupun pelepasan, sehingga tidak terjadi cavitasi pada komponen dan pergerakan work equipment tidak tersendat sendat.

48.EPC valve (Electronic Proportional Control)
Variable Solenoid yang bekerja berdasarkan arus perintah (listrik) untuk menggerakkan hydraulic valve sehingga output pressurenya bervariasi sesuai (proportional) dengan besarnya arus perintah yang mengalir menuju solenoid.

49.2 Stage relief valve
Relief valve yang mempunyai 2 tingkat setting pressure (1st = 320 kg/cm2, 2nd = 350kg/cm2), yang bertujuan untuk meningkatkan tenaga (power) attachment. Prinsip kerja 2 stage relief valve adalah memperkuat tension spring main relief dengan mekanisme piston yang digerakkan oleh pilot pressure. Agar speed attachment tetap dapat dipertahankan maka sudut pump akan dipertahankan dengan menCancel CO valve.

50.Cranking of screw piston cylinder
No reference

51.Backlash
Internal leakage pada gear pump yang terjadi pada bidang kontak teeth drive dan driven gear.

52.Top Clearance
Internal leakage pada gear pump yang disebabkan keausan yang terjadi pada bagian atas hosuing sisi suction yang disebabkan adanya gaya tekan terhadap gear karena pressure pada sisi discharge dan untuk mengurangi internal leakage tersebut, maka dipasang Side plate yang akan memanfaatkan sebagian pressure discharge pump untuk dialirkan menuju sisi suction melalui V- groove sebagai balancing pressure.

53.Side Clearence
Internal leakage pada gear pump yang disebabkan keausan yang terjadi pada sisi samping gear dengan housing dan untuk mengurangi internal leakage tersebut, maka dipasang Side plate yang akan menekan kontak permukaan dengan sisi gear, memanfaatkan pressure discharge pump.

54.Cylindricity
Perbedaan diameter inner atau outer suatu komponen yang diukur pada beberapa titik pengukuran (minimal 3 titik), sehingga dapat diketahui ketirusan karena keausan tidak merata searah axial.

55.Spring out of square
Ketegaklurusan spring terhadap bidang tumpuan.

56.Spring pitch.
Lebar gang suatu spring.

57.Scuffing
Kerusakan pada permukaan komponen berupa goresan melingkar karena bidang kontaknya bersinggungan dan berputar. (misal : antara bushing dengan shaft, pressure plate dengan cylinder barrel)

1.PPC Valve
Suatu valve yang terletak dikabin dan dioperasikan secara manual dengan menggerakkan joystick (lever control) atau pedal. 
Pada Unit RH120 untuk Attachment PPC valve terdiri dari 4 independent set valve dan 6 port, sedangkan Clamp & Travel PPC valve terdiri dari 2 independent set valve dan 4 port.
Pada Unit PC1100 untuk Attachment PPC valve dan Travel PPC valve terdiri dari 4 independent set valve dan 6 port.
Saat joystick dioperasikan, pressure dari Servo pump-40 bar RH120 (Charging pump -35 kg/cm2 PC1100) akan dialirkan sebagai pilot pressure penggerak spool control valve, besarnya pressure output sesuai dan proportional dengan sudut pergerakan joystick, sehingga actuator dapat digerakkan sesuai keinginan operator.

2.Swivel Joint
Suatu komponen yang dipasang pada upper structure yang terdiri housing cylinder dan shaft, yang mempunyai 7 port. Housing diikat dengan upper structure dan shaft diikat pada lower structure, sehingga flow oli untuk travel circuit dari upper structure dapat menuju ke lower structure dan sebaliknya. Dengan demikian travel unit dapat dilakukan upper structure diputar.

4.Main Relief Valve
Suatu valve type pilot poppet yang dipasang pada Housing C/V yang berfungsi untuk membatasi pressure maksimum dalam circuit system pada saat control valve digerakkan sedangkan actuator tidak bergerak karena end stroke atau overload.

5.Safety Valve 
Suatu valve type pilot poppet yang dipasang control valve block dan swing/ travel motor , didalam circuit valve ini dipasang diantara spool control valve dan actuator, yang berfungsi untuk membatasi pressure maksimum dalam circuit actuator saat mendapat beban dari luar, sehingga tidak terjadi kerusakan pada actuator.

6.Suction valve 
Suatu valve yang dipasang pada circuit cylinder dan berfungsi untuk mencegah terjadinya kevakuman pada satu salah satu cylinder saat terjadi beban dari luar dan terjadi keabnormalan pressure, sehingga secondary valve akan bekerja untuk membebaskan pressure dengan konsekwensi cylinder akan bergerak extend atau retract.
Pada beberapa circuit, suction valve menjadi satu kesatuan dengan safety valve, sehingga namanya menjadi safety valve with suction
Pada circuit motor, suction (check) valve dipasang untuk mencegah terjadinya kevakuman yang terjadi pada saat putaran motor dihentikan, akan terjadi abnormal pressure karena gaya inertia yang terjadi, sehingga saat safety valve bekerja untuk membebaskan abnormal pressure, motor dapat berputar, agar tidak terjadi kevakuman pada motor, maka suction valve akan terbuka.

7.Load holding valve
Check valve yang dipasang dalam circuit antara pump dengan sisi inlet spool control valve (actuator), dan berfungsi untuk mencegah terjadinya hydraulic drift (penurunan atau pergerakan attachment yang tidak diharapkan), sesaat control valve digerakkan kembali ke sedangkan pada circuit actuator terjadi holding pressure (pressure yang terjadi karena berat attachment).

8.Shuttle Valve 
Suatu component yang mempunyai 2 port input dengan 1 port output, perbedaan pressure pada kedua sisi input akan menggerakkan valve dan menutup port pressure yang lebih rendah dan membuka port pressure yang lebih tinggi menuju port outputnya.Jika pressure port input sama , maka valve berada pada posisi ditengah dan dapat mengalirkan kedua pressure input menuju ke port output.

9.Accumulator (for PPC valve) PC1100
Sebuah tabung yang berisi gas nitrogen dalam bladder dengan pressure 14-24 bar , dipasang dalam circuit antara servo / charge pump dan PPC valve. Sifat gas nitrogen yang mampu menerima dan menyimpan pressure dengan perubahan volumenya tanpa terjadi kenaikan temperature, sehingga saat servo pump tidak bekerja (engine mati), pressure 35-40 bar masih terjaga dan dapat digunakan untuk menggerakkan spool control valve, untuk menurunkan attachment berdasarkan beratnya sendiri.

10.Line Oil Filter PC1100
Filter yang terpasang diantara hydraulic pump dan control valve, yang berfungsi untuk menyaring kotoran sehingga oli yang menuju ke dalam system menjadi bersih. Filter terbuat serat baja yang tahan dengan pressure tinggi + 330 bar. 

11.Swing priority solenoid valve PC1100
Solenoid valve yang bekerja berdasarkan arus perintah dari Pump controller saat swing priority switch di-ON-kan, untuk mengalirkan pilot pressure dari control pump (+35 kg/cm2) menuju boom spool pada Swing 4-spool C/V, sehingga saat Boom diposisikan Raise dan dikombinasikan dengan Swing, maka spool boom tidak akan bisa bergerak, dengan demikian Flow dari pump No.3 semuanya menuju ke Swing circuit, sedangkan Boom circuit disuplai oleh RH-4 spool C/V dan LH- 5 spool C/V. 

12.Hydraulic Pump 
Pada unit PC1100, tipe pump yang digunakan untuk Main Pump adalah Variable displacement Axial piston pump Swash plate dan dipasang pada PTO, sehingga saat engine hidup, pump dapat berputar dan menghisap oli dari hydraulic tank dan menghasilkan flow oli untuk dialirkan melalui High Pressure Filter menuju ke system hydraulic unit. Flow discharge pump dapat bervariasi untuk menyesuaikan dengan beban yang terjadi, dengan mengatur sudut swash plate sesuai dengan besarnya pressure pilot control (Pecn). Dalam Main system terdapat 3 buah main pump : No.1 main pump HPV95, No.2 main pump HPV95 dan No.3 swing pump HPV160, dimana setiap pump terdiri dari Rear Pump dan Front Pump.
Disamping itu juga terdapat fixed displacement gear pump (triple pump) yang dipasang pada center drive PTO, yang terdiri Control pump SAR100 + Aftercooler fan drive pump SAR20 dan PTO lubricating SAR10.
Pada unit RH120, tipe pump yang digunakan untuk Main Pump adalah Variable displacement Bent-axis piston pump Swash plate type A4V SO 355 X 4, swing pump type A4V G 90 X 2. Servo- and swing charge pump A 10 VO 60 X2, Hydraulic pump - fan drive oil-cooling A10 VO – 45 X 2. Disamping itu juga terdapat fixed displacement gear pump W9A2-11-05-R X 2 untuk PTO lubricating.

13.Hydraulic Cylinder
Suatu komponen yang terdiri dari rod, piston dan cylinder housing, didalam system hydraulic dipasang setelah control valve sebagai actuator penggerak attachment. Hydraulic cylinder mempunyai port bottom (piston side) dan port head, saat pressure oli masuk melalui port bottom, maka rod akan bergerak keluar (extend), sebaliknya saat pressure oli masuk melalui port head, maka rod akan bergerak masuk ke dalam cylinder (retract). Pergerakan retract dan extend rod cylinder digunakan untuk menggerakkan attachment unit. Sehingga pada dasarnya hydraulic cylinder berfungsi merubah tenaga hydraulis menjadi tenaga mekanis.

Pada beberapa type unit, cylinder dilengkapi dengan piston cushion pada kedua sisinya, atau hanya pada satu sisi cylinder. Cushion berfungsi untuk mencegah terjadinya benturan secara langsung antara piston rod dengan cylinder housing pada saat mencapai akhir langkahnya (end stroke) dengan cara menjebak oli dan membebaskannya secara bertahap.

14.Control Pump
Type fixed displacement gear pump SAR 100 (bagian depan Triple gear pump), dan dipasang pada center drive PTO, sehingga saat engine hidup, pump akan menghisap oli dari hydraulic tank dan menghasilkan flow oli yang dialirkan melewati pilot oil filter menuju pilot control circuit unit yang meliputi : Pilot Control Pump, PPC valve, dan input pressure solenoid valve block. Karena circuit control unit adalah Closed center, agar pressure tidak berlebihan dan dapat dipertahankan dalam range kerja, maka maksimal pressurenya dibatasi oleh PPC charge valve sebesar 35 kg/cm2 (high idle).

15.TVC Valve (Torque Variable Control) PC1100
Suatu valve yang dipasang pada Main pump (Rear Pump No.1) dan didalam OLSS hanya terdapat satu TVC valve. Terdapat port Psv yang berasal dari Charging pump sebagai input pressure, port PA1, PA2 dan PA3 yang berasal dari ketiga Main Pump Pressure (Front, Rear dan No.3) sebagai signal pressure, port Pdr yang berhubungan dengan sirkuit drain, serta port Pe sebagai output pressure yang menuju ke CO valve. Disamping itu juga terdapat proportional solenoid valve.
TVC bekerja untuk mengatur sudut main pump (flow dicharge pump) agar tenaga yang diserap oleh system hydraulic selalu sesuai dengan tenaga engine pada Rated speed (HP max), berdasarkan arus perintah dari pump controller (Engine speed sensing). Pada saat Working mode diposisikan G atau prolix switch diONkan, TVC valve bekerja berdasarkan signal pressure dari ketiga main pressure PA1, PA2, PA3. (Constant Torque Control).
Jadi pada dasarnya TVC valve akan mengatur flow dicharge pump sesuai dengan beban kerja (Load Pressure), saat load ringan atau pressure rendah, flow discharge diperbesar, sebaliknya saat load membesar ( pressure semakin tinggi) flow discharge pump diperkecil.
HP max Engine / Rated Speed = HP hyd dipertahankan konstan, 
HP hyd = P X Q, sehingga Q (flow discharge) berbanding terbalik dengan P (pressure system)

16.CO Valve (Cut-Off valve)
Suatu valve yang dipasang pada Main pump (Front & Rear Pump No.1 dan Rear pump No.3) menempel pada servo valve dan menjadi satu block dengan NC valve. Terdapat port Pe output pressure TVC valve sebagai input pressure CO valve, port PA dari pump pressure sebagai signal pressure, port Pdr yang berhubungan dengan sirkuit drain, port Pec sebagai output pressure dan port Pc yang berasal dari solenoid CO cancel.
CO valve bekerja untuk memperkecil sudut main pump (flow discharge) sesaat sebelum relief pressure tercapai, sehingga akan menghilangkan relief loss, kerugian kehilangan tenaga engine secara percuma saat relief pressure tercapai (attachment tidak bisa bergerak), sedangkan pump masih mensuplai flow discharge yang besar. CO valve bekerja untuk memperkecil pressure Pec berdasarkan signal pressure PA.
Saat pilot pressure Pc dari solenoid CO cancel mengalir, CO valve tidak bisa bekerja untuk memperkecil sudut main pump, sehingga flow discharge dipertahankan untuk mendapatkan tenaga hydraulic yang lebih besar (Heavy lift & Drawbar pull) dengan juga menaikkan setting main relief valve menjadi 350 kg/cm2 (2nd stage) saat operasi pengangkatan berat atau unit travel.

17.NC Valve PC1100
Neutral Control Valve dipasang menempel pada servo valve main pump dan menjadi satu block valve dengan CO valve dan didalam system OLSS PC1100 terdapat 3 buah NC valve (Front, Rear dan No.1 pump). Terdapat port Pec output pressure CO valve sebagai input pressure NC valve, port Pdr yang berhubungan dengan sirkuit drain dan port Pt – Pd sebagai signal pressure dari Jet sensor. Perbedaan pressure Pt-Pd akan maksimal saat lever posisi netral dan semakin mengecil sesuai (proportional) dengan semakin besarnya sudut pergerakan, sedangkan saat lever PPC posisi full stroke, maka perbedaan pressure Pt-Pd menjadi hilang (maks.1 kg/cm2). Perbedaan pressure Pt-Pd yang propotional dengan pergerakan spool C/V (sudut pergerakan lever PPC valve) itulah yang digunakan untuk mengatur sudut main pump, sehingga flow discharge pump sesuai pergerakan lever PPC
Dengan demikian, kecepatan gerak actuator dapat sesuai dengan sudut pergerakan lever PPC.

18.Cushion Cylinder
Pada unit PC1100, arm cylinder dan bucket cylinder mempunyai cushion pada kedua sisinya, sedangkan pada boom cylinder hanya terdapat pada sisi headnya. Cushion berfungsi untuk mencegah terjadinya benturan secara langsung antara piston rod dengan cylinder housing pada saat mencapai akhir langkahnya (end stroke) dengan cara menjebak oli dan membebaskannya secara bertahap.

19.Control valve
Pada unit PC1100, terdapat RH-4 spool C/V, LH-5 spool C/V dan Swing-4 spool C/V, yang dioperasikan dengan pilot pressure yang berasal dari PPC valve, sesuai dengan pergerakan attachment yang diinginkan.
Pada dasarnya spool control valve berfungsi untuk mengarahkan aliran flow oli yang dihasilkan pump menuju ke masing masing cylinder hydraulic (sebagai directional valve), agar cylinder dapat bergerak extend atau retract, sehingga attachment dapat bergerak sesuai yang diinginkan . Pada control valve juga terdapat relief valve untuk membatasi maksimal pressure dalam system, juga terdapat safety valve dan suction valve yang berfungsi sebagai pengaman actuator saat attachment mendapat beban dari luar, dengan cara membebaskan pressure abnormal dan mencegah terjadinya kevakuman.

20.Pressure compensation valve (CLSS small PC -6 & 7)
Suatu valve yang dipasang pada port outlet control valve untuk menyeimbangkan beban kerja (Load). Pada saat dua atau lebih actuator digerakkan secara bersamaan, LS pressure yang tertinggi digunakan untuk mengatur bidang bukaan pressure compensation valve, sehingga perbedaan pressure (DP) antara upstream (port inlet) dengan downstream (port outlet) pada setiap spool control valve menjadi sama tanpa memperhatikan besarnya pressure (load) yang terjadi. Dengan demikian, flow discharge pump akan dibagi secara proportional dengan luas bidang pembukaan masing masing spool valve, sehingga didapatkan cycle time (actuator speed) yang cenderung konstan, tidak dipengaruhi oleh besarnya beban.

21.Variable pressure conpensation valve (CLSS small PC -6 & 7)
Valve ini dipasang jika service spool digunakan untuk actuator tambahan (misal breaker, stone hammer), sehingga dapat dilakukan adjustment flow yang dialirkan menuju service spool, saat dioperasikan bersamaan dengan main control valve (misal, boom Raise, arm In)

22.Unload valve (CLSS small PC -6 & 7, Auger System An Bin/ Anfo Mixer)
Suatu valve yang dipasang pada port inlet control valve, yang bekerja berdasarkan LS pressure circuit. Pada saat control valve posisi netral, LS pressure circcuit = 0 kg/cm2, sehingga flow discharge pump mampu mengalahkan cracking spring unload valve dan menghubungkan dengan circuit drain, dengan demikian dalam CLSS terdapat standby pressure sebesar + 35 kg/cm2. Sedangkan saat control valve digerakkan, pada LS pressure circuit akan terdapat pressure yang sebanding dengan load, sehingga Unload valve menutup hubungan port Inlet dengan circuit drain, maka flow discharge pump dialirkan ke circuit actuator.
Jadi pada dasarnya Unload valve berfungsi untuk membatasi maksimal pressure dalam system saat control valve posisi netral dengan membebaskan flow discharge pump kembali ke hydraulic tank.

23.Pump merger/devider valve (CLSS small PC -6 & 7)
Suatu valve yang dipasang pada control valve dan berfungsi untuk menggabungkan atau memisahkan (mengalirkan ke masing masing ke control valve) flow discharge kedua pump (Front & Rear). Dan pada saat yang bersamaan juga menggabungkan atau memisahkan LS circuit pressure. Valve ini bekerja berdasarkan signal pressure dari pump merge/devider solenoid valve yang mendapat arus perintah dari pump controller.

24.Self reducing valve (CLSS small PC -6 & 7, Auger System An Bin/ Anfo Mixer)
Suatu valve yang dipasang pada port inlet control valve, dan berfungsi untuk menurunkan main pressure menjadi pilot pressure untuk digunakan sebagai control pressure solenoid valve, PPC valve dsb. Sehingga pada system CLSS tidak perlu lagi menggunakan Charging pump.

25.Lift check valve
Suatu valve yang dipasang pada control valve dan bekerja dengan menimbulkan back pressure pada circuit drain untuk mencegah terjadinya kevakuman atau negative pressure pada actuator work equipment (cylinder dan motor).

26.Travel junction valve
Suatu valve yang dipasang pada control valve, dan didalam circuit hydraulic dipasang diantara kedua control valve travel dan kedua travel motor. Saat travel dioperasikan bersama dengan attachment, solenoid akan OFF untuk menghilangkan pilot pressure penggerak travel junction valve, sehingga valve menghubungkan kedua circuit travel (kanan & kiri), akibatnya flow oli dialirkan secara merata menuju kedua travel motor, sehingga unit dapat travel lurus tanpa terjadi deviasi.

27.Ls shuttle valve (CLSS small PC -6 & 7, Auger System An Bin/ Anfo Mixer)
Shuttle valve yang dipasang pada circuit LS pada semua spool control valve, dan berfungsi sebagai pemilih pressure yang lebih tinggi, sehingga pressure LS tertinggi yang mengalir sebagai pilot pressure control pump.

28.Ls by pass valve
Suatu valve yang dipasang pada control valve, yang mempunyai orifice untuk membebaskan pressure yang tersisa pada LS circuit, sehingga mengurangi kecepatan kenaikan pressure LS dan mencegah terjadi perubahan pressure LS secara mendadak. Selanjutnya penurunan pressure akan disebabkan oleh hambatan antara throttle main spool dan LS shuttle valve sesuai dengan besar flow yang dibebaskan oleh LS bypass valve, akibatnya effektivitas DLS berkurang dan kestabilan pergerakan actuator semakin meningkat.

29.Boom regeneration valve PC1100
Valve yang dalam circuit dipasang antara spool Boom dan sisi bottom Boom cylinder, dan bekerja berdasarkan pilot pressure dari PPC valve Boom Lower, sehingga saat posisi Boom Lower akan membypasskan sebagian oli dari sisi bottom menuju sisi head Boom cylinder, dengan demikian akan mempercepat kecepatan turun boom frame (attachment) dan mencegah terjadinya kevakuman pada sisi head boom cylinder.

30.Boom & Arm holding valve (CLSS small PC -6 & 7)
Valve yang dalam circuit dipasang antara spool Boom dan sisi bottom Boom cylinder, dan antara spool Arm dan sisi head Arm cylinder. Valve bekerja berdasarkan pilot pressure dari PPC valve Boom Lower atau Arm Out, dan berfungsi untuk mencegah penurunan attachment secara tiba-tiba jika terjadi kebocoran piping atau hose diantara control valve dan cylinder saat unit operasi, dengan menutup oli yang kembali dari sisi bottom cylinder sehingga meningkatkan factor keamanan operasi.

31.Arm Regeneration circuit and check valve
Suatu check valve yang dalam circuit dipasang antara spool Arm dan sisi Head Arm cylinder, dan bekerja berdasarkan perbedaan pressure pada kedua sisi cylinder, sehingga saat posisi Arm In, check valve akan terbuka dan membypasskan sebagian oli dari sisi head menuju sisi bottom Arm cylinder, dengan demikian akan mempercepat kecepatan gerak Arm In dan mencegah terjadinya kevakuman pada sisi bottom Arm cylinder.

32.Hydraulic cylinder 
arm cylinder dan bucket cylinder mempunyai cushion pada kedua sisinya, sedangkan pada boom cylinder hanya terdapat pada sisi headnya. Cushion berfungsi untuk mencegah terjadinya benturan secara langsung antara piston rod dengan cylinder housing pada saat mencapai akhir langkahnya (end stroke) dengan cara menjebak oli dan membebaskannya secara bertahap.

                                           ⤋⤋⤋

layanan service alat berat